Monday, October 21, 2013

New Media

Definisi New Media
New Media terdiri dari 2 kata yaitu New dan Media. New yang berarti Baru dan Media yang berarti Perantara. Jadi New Media merupakan Sarana perantara yang baru. Baru dalam arti disini dilihat dari segi waktu, manfaat, produksi, dan distribusinya. New Media juga dapat disebut sebuah istilah yang dimaksudkan untuk mencakup kemunculan digital, komputer, atau jaringan teknologi informasi dan komunikasi di akhir abad ke-20. Sebagian besar teknologi yang digambarkan sebagai “media baru” adalah digital, seringkali memiliki karakteristik dapat dimanipulasi, bersifat jaringan, padat, mampat, interaktif dan tidak memihak. Beberapa contoh New Media adalah Internet, website, komputer multimedia, permainan komputer, CD-ROMS, dan DVD.
Pandangan New Media
New Media merupakan perkembangan baru dari media-media yang telah digunakan manusia. Karakternya yang merupakan bentuk digital tentu memudahkan dalam bertukar informasi dan berbagai kegiatan lainnya. Namun dalam perkembangannya, New Media bisa memberikan nilai negatif juga, yaitu dapat mengakses situs yang berbau porno dan kekerasan dengan mudah dan memberikan efek ketagihan bagi penggunanya. Jadi sudah seharusnya perkembangan New Media diikuti juga dengan kebijakan orang yang memanfaatkannya.
Komponen New Media
- Internet & Web
- Personal Komputer (PC) / Notebook
- DVDs (Digital Versatile Disc or Digital Video Disc)
- VCDs (Compact Discs)
- Portable Media Player.
- Mobile Phone.
- Video Game/ Game Computer.
- Virtual Reality.

Komponen dari new media yaitu : Handphone, Internet, dan Komputer. Handphone / Smart Phone dapat dijadikan sebagai komponen New Media karena dengan Smart Phone kita dapat mengakses bebesapa situs jejaring sosial diantaranya Facebook, Twitter, Email, Plurk, Heello, FourSquare, dan lain sebagainya.
Dengan SmartPhone kita dapat lebih cepat mendapatkan informasi yang kita inginkan atau juga memberikan informasi yang kita dapatkan sesuai dengan kenyataan. Misalkan di situs jejaring Twitter, kita dapat mendapatkan informasi tentang kejadian sekitar dengan memfollow akun yang berhubungan dengan berita yang baru. Internet dijadikan sebagai komponen New Media karena dengan Internet kita dapat mengakses berbagai informasi dimanapun kita berada. Internet memudahkan kita untuk melakukan sebuah interaksi sosial dengan manusia sekitar. Komputer dijadikan sebagai komponen New Media karena computer juga dapat memudahkan kita mendapatkan informasi. Ketiga komponen diatas tidak dapat saling dipisahkan, antara Smart Phone dengan Internetm dan juga Komputer dengan Internet. Ketiganya saling berkaitan dan harus seimbang dalam pemakaiannya.

Aplikasi New Media 
Pada saat perkembangan teknologi sedag berkembang dengan sangta cepatnya, pasti banyak sekali produk-produk multimedia yang semakin banyak juga yang akan kita ketahui, baik itu melalui media massa, ataupun media elektronk seperti internet pada saat ini.
Seiring dengan berkembang pesatnya media saat ini, saya akan membahas tentang beberapa aplikasi new media yang sudah awam kita gunakan sehari hari sebagai sarana untuk membantu kita dalam berbagai bidang. Contohnya yang sudah sangat banyak digunakan oleh masyarakat adalah Facebook. Siapa yang tak kenal dengan jenis jejaring sosial ini? Dari mulai anak anak sampai orang dewasa bahkan sudah sangat familiar dengan nama ini. Begitu pula berbagai jenis aplikasi new media lain yang juga sudah banyak digunakan masyarakat. Beberapa contohnya akan saya bahas dalam artikel ini :
Facebook
Siapa sih yang kenal dengan nama ini? Ya, hapir semua orang sekarang memiliki akun Facebook, mulai dari anak anak sampai orang dewasa berlomba lomba memperluas jaringan sosial mereka dengan menggunakan salah satu jenis new media ini. Facebook adalah sebuah social networking yang baru saja dirintis pada tahun 2006 oleh seorang mahasiswa Harvard yang bernama Mark Zuckerberg.Fitur fitur yang disediakan oleh Facebook cukup lengkap jika dibandingkan dengan social networking yang lain, fitur yang disediakan antara lain notes, wall, photos, aplikasi itunes, video, causes, dll, juga masih banyak aplikasi games, ataupun sejenisnya yang bisa digunakan melalui Facebook ini.
Youtube
YouTube adalah sebuah situs web video sharing (berbagi video) populer yang didirikan pada Februari 2005 oleh tiga orang bekas karyawan Paypal,:Chad Hurley, Steven Chen dan Jawed Karim. Menurut perusahaan penelitian Internet Hitwise pada Mei 2006 YouTube memiliki pangsa pasar sebesar 43 persen.
Para pengguna dapat memuat, menonton, dan berbagi klip video secara gratis. Umumnya video-video di YouTube adalah klip musik, fil, TV serta video buatan para penggunanya sendiri. Format yang digunakan video-video di YouTube adalah .flv yang dapat diputar di penjelajah web yang memiliki plugin Flashplayer.

DAMPAK BURUK
- Terbukanya informasi menimbulkan kemungkinan pencurian data pribadi. Hal ini biasa dilakukan hacker dengan tujuan-tujuan tertentu.
- Virus. Terbukanya arus informasi dan komunikasi juga dapat membawa virus yang berkedok aplikasi dengan mudah menyebar.
- Rasa ketagihan berlebihan, contohnya pada saat bermain game online atau jejaring social.



Monday, April 29, 2013

manusia sebagai makhluk berbudaya


KATA PENGANTAR


Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat karuniaNya yang diberikan kepada kita semua. Penulis dapat menyelesaikan penyusunan tugas ilmu sosial dasar yang berjudul “Manusia Sebagai Makhluk Berbudaya”. Penulisan makalah adalah merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menambah nilai tugas mata kuliah ilmu sosial dasar di Universitas Gunadarma.
Manusia dan kebudayaan merupakan salah satu ikatan yang tak bisa dipisahkan dalam kehidupan ini. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang paling sempurna merupakan makhluk yang memiliki budaya. Manusia dapat menciptakan kebudayaan mereka sendiri dan melestarikannya secara turun menurun. Kebudayaan itu merupakan  warisan sejarah kehidupan manusia yang dapat berkembang dan dikembangkan melalui sikap-sikap budaya yang mampu mendukungnya.
Secara garis besar, makalah ini akan membahas manusia sebagai makhluk yang berbudaya dan memiliki adat istiadat.
Dalam Penulisan makalah ini penulis merasa masih banyak kekurangan-kekurangan baik pada teknis penulisan maupun materi, mengingat akan kemampuan yang dimiliki penulis. Untuk itu kritik dan saran dari semua pihak sangat penulis harapkan demi penyempurnaan pembuatan tugas makalah ini.
Penulis


Pendahuluan
Latar Belakang

      Kehidupan manusia sangatlah komplek, begitu pula hubungan yang terjadi pada manusia sangatlah luas. Hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan makhluk hidup yang ada di alam, dan manusia dengan Sang Pencipta. Setiap hubungan tersebut harus berjalan seimbang.
      Manusia juga harus bersosialisasi dengan lingkungan, yang merupakan pendidikan awal dalam suatu interaksi sosial. Hal ini menjadikan manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan yang berlandaskan ketuhanan. Karena dengan ilmu tersebut manusia dapat membedakan antara yang hak dengan yang bukan hak, antara kewajiban dan yang bukan kewajiban. Sehingga norma-norma dalam lingkungan berjalan dengan harmonis dan seimbang. Agar norma-norma tersebut berjalan haruslah manusia di didik dengan berkesinambungan dari “dalam ayunan hingga ia wafat”, agar hasil dari pendidikan –yakni kebudayaan– dapat diimplementasikan dimasyarakat.
      Pendidikan sebagai hasil kebudayaan haruslah dipandang sebagai “motivator” terwujudnya kebudayaan yang tinggi. Selain itu pendidikan haruslah memberikan kontribusi terhadap kebudayaan, agar kebudayaan yang dihasilkan memberi nilai manfaat bagi manusia itu sendiri khususnya maupun bagi bangsa pada umumnya.
Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kualitas manusia pada suatu negara akan tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil dari pendidikan suatu bangsa.

 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
a. apa hakikat manusia dan budaya ?
b. apa saja perwujudan dari kebudayaan ?
c. bagaimana hubungan manusia dengan kebudayaan?
d. apakah manusia sebagai pengguna dan pencipta kebudayaan?

Tujuan Makalah
Makalah ini dibuat dengan tujuan sebagai pemenuhan tugas  soft skill ilmu  Budaya Dasar sekaligus sebagai literatur tambahan bagi mahasiswa atau pembaca yang ingin menambah wawasan yang mencakup manusia sebagai makhluk budaya.



PEMBAHASAN




1)      Hakekat manusia sebagai makhluk budaya

A.  Manusia.
Dalam sudut pandang etimologi banyak pendapat yang mengemukakan tentang kata manusia, seperti kata manusia itu berasal dari kata manu (sangsekerta), mens (latin) yang berarti berfikir, berakal budi atau mahluk yang berakal budi. Dalam kamus besar bahasa Indonesia manusia diartikan sebagai mahluk yang berakal budi.
Adapun manusia dalam sudut pandang terminologi, kita bisa melihat dari berbagai macam bidang keilmuan. Misalnya dalam kacamata biologi manusia diartikan sebagai spesies primata dari golongan mamalia yang dilengkapi otak berkemampuan tinggi. Dalam hal kerohanian, mereka dijelaskan menggunakan konsep jiwa yang bervariasi di mana, dalam agama, dimengerti dalam hubungannya dengan kekuatan ketuhanan atau makhluk hidup. Dalam antropologi kebudayaan, mereka dijelaskan berdasarkan penggunaan bahasanya, organisasi mereka dalam masyarakat majemuk serta perkembangan teknologinya, dan terutama berdasarkan kemampuannya untuk membentuk kelompok dan lembaga untuk dukungan satu sama lain serta pertolongan.
Dari pengertian di atas dapat di simpulkan bahwa manusia adalah suatu mahluk yang meiliki ciri tertentu dan memiliki keintelektualan yang tinggi dan membutuhkan kepada yang lainnya. Yang lainnya di sini entah kepada tuhan atau kepada sesama mahluk.

B.  Budaya.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa sangsekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Dalam arti terminologi budaya adalah sebuah system yang memiliki koherensi. Menurut E.B Taylor (1987) kebudayaan meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, moral hukum, adat istiadat, pembawaan lain yang di peroleh dari anggota masyarakat yang terbentuk dari anggota masyarakat yang terbentuk dari pemahaman suatu bangsa.
Menyadari bahwa budaya atau kebudayaan merupakan istilah yang di terjemahkan berbeda-beda oleh para ahli, saya hanya ingin mengatakan bahwa budaya adalah bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Hal ini untuk tidak memperuncing permasalahan yang akan membuat tulisan ini tidak bisa selesai nantinya.

Setelah kita mengetahui tentang manusia dan budaya, sekarang kita akan mulai berbicara permasalahan inti,   yakni manusia sebagai mahluk berbudaya.
Manusia mempunyai tingkatan yang lebih tinggi karena selain mampunyai sebagaimanaa makhluk hidup di atas, manusia juga mempunyai akal yang dapat memperhitungkan tindakannya yang kompleks melalui proses belajar yang terus-menerus. Selain itu manusia diktakan pula sebagai makhluk budaya. Budaya diartikan sebagai pikiran atau akal budi .

Berdasarkan pengertian-pengertian di atas, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa budaya adalah sesuatu bagian dari manusia tidak akan pernah terpisahkan, karena tabiat manusia itu sendiri adalah berbudaya. Kenapa begitu? Jika kita melihat arti manusia secara bahasa, yakni dari kata manu, memiliki arti berfikir, berakal budi. Dan budaya sendiri dalam arti bahasa berarti akal atau budi. sehingga jika kita menarik garis lurus antara arti kata manusia dan budaya, maka kita akan mendapatkan dua kata kunci, yakni akal dan budi. hal ini menunjukkan keterkaitan diantara keduanya


2)      Perwujudan kebudayaan

      JJ. Hogman dalam bukunya “The World of Man” membagi budaya dalam tiga wujud yaitu: ideas, activities, dan artifacts. Sedangkan Koencaraningrat, dalam buku “Pengantar Antropologi” menggolongkan wujud budaya menjadi:
a. Sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan dan sebagainya.
b. Sebagai suatu kompleks aktifitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat
c. Sebagai benda-benda hasil karya manusia
      Berdasarkan penggolongan wujud budaya di atas kita dapat mengelompokkan budaya menjadi dua, yaitu Budaya yang bersifat abstrak dan budaya yang bersifat konkret.

Budaya yang Bersifat Abstrak:
      Budaya yang bersifat abstrak ini letaknya ada di dalam alam pikiran manusia, misalnya terwujud dalam ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan-peraturan, dan cita-cita. Jadi budaya yang bersifat abstrak adalah wujud ideal dari kebudayaan. Ideal artinya sesuatu yang menjadi cita-cita atau harapan bagi manusia sesuai dengan ukuran yang telah menjadi kesepakatan.
Budaya yang Bersifat konkret:
      Wujud budaya yang bersifat konkret berpola dari tindakan atau peraturan dan aktivitas manusia di dalam masyarakat yang dapat diraba, dilihat, diamati, disimpan atau diphoto.
Koencaraningrat menyebutkan sifat budaya dengan sistem sosial dan fisik, yang terdiri atas: perilaku, bahasa dan materi.

a. Perilaku
      Perilaku adalah cara bertindak atau bertingkah laku dalam situasi tertentu. Setiap perilaku manusia dalam masyarakat harus mengikuti pola-pola perilaku (pattern of behavior) masyarakatnya.

b. Bahasa
      Bahasa adalah sebuah sistem simbol-simbol yang dibunyikan dengan suara (vokal) dan ditangkap dengan telinga (auditory). Ralp Linton mengatakan salah satu sebab paling penting dalam memperlambangkan budaya sampai mencapai ke tingkat seperti sekarang ini adalah pemakaian bahasa. Bahasa berfungsi sebagai alat berpikir dan berkomunikasi. Tanpa kemampuan berpikir dan berkomunikasi budaya tidak akan ada.

c. Materi
      Budaya materi adalah hasil dari aktivitas atau perbuatan manusia. Bentuk materi misalnya pakaian, perumahan, kesenian, alat-alat rumah tangga, senjata, alat produksi, dan alat transportasi.
Unsur-unsur materi dalam budaya dapat diklasifikasikan dari yang kecil hingga ke yang besar adalah sebagai berikut:
1. Items, adalah unsur yang paling kecil dalam budaya.
2. Trait, merupakan gabungan dari beberapa unsur terkecil
3. Kompleks budaya, gabungan dari beberapa items dan trait
4. Aktivitas budaya, merupakan gabungan dari beberapa kompleks budaya.

      Gabungan dari beberapa aktivitas budaya menghasilkan unsur-unsur budaya menyeluruh (culture universal). Terjadinya unsur-unsur budaya tersebut dapat melaluidiscovery (penemuan atau usaha yang disengaja untuk menemukan hal-hal baru).

3)      Kaitan Manusia dan Kebudayaan

Hubungan antara manusia dan kebudayaan :
      Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.
      Herskovits memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lain, yang kemudian disebut sebagai superorganic.
      Menurut Andreas Eppink, kebudayaan mengandung keseluruhan pengertian nilai sosial,norma sosial, ilmu pengetahuan serta keseluruhan struktur-struktur sosial, religius, dan lain-lain, tambahan lagi segala pernyataan intelektual dan artistik yang menjadi ciri khas suatu masyarakat.
      Menurut Edward Burnett Tylor, kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks, yang di dalamnya terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota masyarakat.
      Menurut Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi, kebudayaan adalah sarana hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat.
Dari berbagai definisi tersebut, dapat diperoleh pengertian mengenai kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan

4)      Manusia Sebagai Pencipta Dan Pengguna Kebudayaan

      Budaya tercipta atau terwujud merupakan hasil dari interaksi antara manusia dengan segala isi yang ada di alam raya ini.Manusia di ciptakan oleh tuhan dengan dibekali oleh akal pikiran sehingga mampu untuk berkarya di muka bumi ini dan secara hakikatnya menjadi khalifah di muka bumi ini.  Disamping itu manusia juga memiliki akal, intelegensia, intuisi, perasaan, emosi, kemauan, fantasi dan perilaku. Dengan semua kemampuan yang dimiliki oleh manusia maka manusia bisa menciptakan kebudayaan.Ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan.Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang menciptakannya dan  manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya. Kebudayaan akan terus hidup manakala ada manusia sebagai pendudukungnya.
      Kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi manusia. Hasil karya manusia  menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi manusia terhadap lingkungan alamnya. Sehingga kebudayaan memiliki peran sebagai
1.      Suatu hubungan pedoman antarmanusia atau kelompoknya
2.      Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuan-kemampuan lain
.3.      Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupan manusia
4.      Pembeda manusia dan binatang
5.      Petunjuk-petunjuk tentang bagaimana manusia harus bertindak dan berprilaku didalam         
          Pergaulan.
 6.     Pengatur agar manusia dapat mengerti bagaimana seharusnya bertindak, berbuat dan    
         menentukan sikapnya jika berhubungan dengan orang lain        
 7.     Sebagai modal dasar pembangunan. 

PENUTUP



 Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat ditarik kesimpulan:
- Pada hakikatnya manusia adalah makhluk yang berakal, berbudi, dan berbudaya
- Wujud budaya dapat bersifat konkret yaitu sebagai ide, gagasan, norma dan peraturan bagi manusia dan abstrak yaitu sebagai tinfakan, peraturan, dan aktivitas manusia.
- Kebudayaan merupakan hasil cipta, karsa, rasa manusia yang diperoleh dari perkembangan manusia sebagai masyarakat.

Saran
Dengan dibuatnya makalah ini diharapkan dapat menambah pengetahuan serta wawasan pembaca. Selanjutnya pembuat makalah mengharapkan kritik dan saran pembaca demi kesempurnaan makalah ini untuk kedepannya

Tuesday, January 29, 2013

Permasalahan Sosial Terhadap kemiskinan



Kemiskinan mungkin masih banyak kita lihat di sekitar kita, persoalan kemiskinan bukanlah hal yang baru di Negara Indonesia. Sebelum kemerdekaan pun Kolonia belanda resah atas permasalahan kemiskinan yang melanda Indonesia pada pulau jawa. Kemiskinan itu mulai bertambah ketika pesatnya angka kelahiran dan masih buruknya perekonomian mereka. Sehingga menjadikannya semakin sulit dalam menata kehidupan untuk janga kedepannya. Hingga kini masih di bayangi oleh kemiskinan. Jumlah kemiskinan di Indonesia pada Maret 2009 saja mencapai 32,53 juta atau 14,15 persen [www.bps.go.id]. kemiskinan tidak hanya di daerah plosok saja namun di daerah kota pun masih ada kemiskinan yang malah makin meraja lela. Telah kita lihat ibu kota Jakarta begitu pesatnya pembangunannya masih di jumpai orang orang kalangan miskin, seperti gelandangan yang tinggal di berbagi tempat umum. Namun Kemiskinan juga tidak semata-mata persoalan ekonomi melainkan kemiskinan kultural dan struktural.

Jakarta - Pada mulanya adalah kemiskinan. Lalu pengangguran. Kemudian kekerasan dan kejahatan [crime]. Martin Luther King [1960] mengingatkan, “you are as strong as the weakestof the people.” Kita tidak akan menjadi bangsa yang besar kalau mayoritas masyarakatnya masih miskin dan lemah. Maka untuk menjadi bangsa yang besar mayoritas masyarakatnya tidak boleh hidup dalam kemiskinan dan lemah.

Meski kemiskinan merupakan sebuah fenomena yang setua peradaban manusia tetapi pemahaman kita terhadapnya dan upaya-upaya untuk mengentaskannya belum menunjukan hasil yang menggembirakan. Para pengamat ekonomi pada awalnya melihat masalah kemiskinan sebagai “sesuatu” yang hanya selalu dikaitkan dengan faktor-faktor ekonomi saja. 

Hari Susanto [2006] mengatakan umumnya instrumen yang digunakan untuk menentukan apakah seseorang atau sekelompok orang dalam masyarakat tersebut miskin atau tidak bisa dipantau dengan memakai ukuran peningkatan pendapatan atau tingkat konsumsi seseorang atau sekelompok orang. Padahal hakikat kemiskinan dapat dilihat dari berbagai faktor. Apakah itu sosial-budaya, ekonomi, politik, maupun hukum. 

Menurut Koerniatmanto Soetoprawiryo menyebut dalam Bahasa Latin ada istilah esse [to be] atau [martabat manusia] dan habere [to have] atau [harta atau kepemilikan]. Oleh sebagian besar orang persoalan kemiskinan lebih dipahami dalam konteks habere. Orang miskin adalah orang yang tidak menguasai dan memiliki sesuatu. Urusan kemiskinan urusan bersifat ekonomis semata.

Mari kita cermati kondisi masyarakat dewasa ini. Banyak dari mereka yang tidak mampu memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan papan. Bahkan, hanya untuk mempertahankan hak-hak dasarnya serta bertahan hidup saja tidak mampu. Apalagi mengembangkan hidup yang terhormat dan bermartabat. Bapenas [2006] mendefinisikan hak-hak dasar sebagai terpenuhinya kebutuhan pangan, kesehatan, pendidikan, pekerjaan, perumahan, air bersih, pertanahan, sumber daya alam dan lingkungan hidup, serta rasa aman dari perlakuan atau ancaman tindak kekerasan dan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan sosial-politik. Baik bagi perempuan maupun laki-laki. 

Krisis ekonomi yang berkepanjangan menambah panjang deret persoalan yang membuat negeri ini semakin sulit keluar dari jeratan kemiskinan. Hal ini dapat kita buktikan dari tingginya tingkat putus sekolah dan buta huruf. Hingga 2006 saja jumlah penderita buta aksara di Jawa Barat misalnya mencapai jumlah 1.512.899. Dari jumlah itu 23 persen di antaranya berada dalam usia produktif antara 15-44 tahun. Belum lagi tingkat pengangguran yang meningkat “signifikan.” Jumlah pengangguran terbuka tahun 2007 di Indonesia sebanyak 12,7 juta orang. Ditambah lagi kasus gizi buruk yang tinggi, kelaparan/busung lapar, dan terakhir, masyarakat yang makan “Nasi Aking.” 

Di Nusa Tenggara Timur (NTT) 2000 kasus balita kekurangan gizi dan 206 anak di bawah lima tahun gizi buruk. Sedangkan di Bogor selama 2005 tercatat sebanyak 240 balita menderita gizi buruk dan 35 balita yang statusnya marasmus dan satu di antaranya positif busung lapar. Sementara di Jakarta Timur sebanyak 10.987 balita menderita kekurangan gizi. Dan, di Jakarta Utara menurut data Pembinaan Peran Serta Masyarakat Kesehatan Masyarakat [PPSM Kesmas] Jakut pada Desember 2005 kasus gizi buruk pada bayi sebanyak 1.079 kasus. 

Dampak Kemiskinan

Dampak dari kemiskinan terhadap masyarakat umumnya begitu banyak dan kompleks. Pertama, pengangguran. Sebagaimana kita ketahui jumlah pengangguran terbuka tahun 2007 saja sebanyak 12,7 juta orang. Jumlah yang cukup “fantastis” mengingat krisis multidimensional yang sedang dihadapi bangsa saat ini. 

Dengan banyaknya pengangguran berarti banyak masyarakat tidak memiliki penghasilan karena tidak bekerja. Karena tidak bekerja dan tidak memiliki penghasilan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan pangannya. Secara otomatis pengangguran telah menurunkan daya saing dan beli masyarakat. Sehingga, akan memberikan dampak secara langsung terhadap tingkat pendapatan, nutrisi, dan tingkat pengeluaran rata-rata. 

Dalam konteks daya saing secara keseluruhan, belum membaiknya pembangunan manusia di Tanah Air, akan melemahkan kekuatan daya saing bangsa. Ukuran daya saing ini kerap digunakan untuk mengetahui kemampuan suatu bangsa dalam bersaing dengan bangsa-bangsa lain secara global. Dalam konteks daya beli di tengah melemahnya daya beli masyarakat kenaikan harga beras akan berpotensi meningkatkan angka kemiskinan. Razali Ritonga menyatakan perkiraan itu didasarkan atas kontribusi pangan yang cukup dominan terhadap penentuan garis kemiskinan yakni hampir tiga perempatnya [74,99 persen]. 

Meluasnya pengangguran sebenarnya bukan saja disebabkan rendahnya tingkat pendidikan seseorang. Tetapi, juga disebabkan kebijakan pemerintah yang terlalu memprioritaskan ekonomi makro atau pertumbuhan [growth]. Ketika terjadi krisis ekonomi di kawasan Asia tahun 1997 silam misalnya banyak perusahaan yang melakukan perampingan jumlah tenaga kerja. Sebab, tak mampu lagi membayar gaji karyawan akibat defisit anggaran perusahaan. Akibatnya jutaan orang terpaksa harus dirumahkan atau dengan kata lain meraka terpaksa di-PHK [Putus Hubungan Kerja].

Kedua, kekerasan. Sesungguhnya kekerasan yang marak terjadi akhir-akhir ini merupakan efek dari pengangguran. Karena seseorang tidak mampu lagi mencari nafkah melalui jalan yang benar dan halal. Ketika tak ada lagi jaminan bagi seseorang dapat bertahan dan menjaga keberlangsungan hidupnya maka jalan pintas pun dilakukan. Misalnya, merampok, menodong, mencuri, atau menipu [dengan cara mengintimidasi orang lain] di atas kendaraan umum dengan berpura-pura kalau sanak keluarganya ada yang sakit dan butuh biaya besar untuk operasi. Sehingga dengan mudah ia mendapatkan uang dari memalak.

Ketiga, pendidikan. Tingkat putus sekolah yang tinggi merupakan fenomena yang terjadi dewasa ini. Mahalnya biaya pendidikan membuat masyarakat miskin tidak dapat lagi menjangkau dunia sekolah atau pendidikan. Jelas mereka tak dapat menjangkau dunia pendidikan yang sangat mahal itu. Sebab, mereka begitu miskin. Untuk makan satu kali sehari saja mereka sudah kesulitan. 

Bagaimana seorang penarik becak misalnya yang memiliki anak cerdas bisa mengangkat dirinya dari kemiskinan ketika biaya untuk sekolah saja sudah sangat mencekik leher. Sementara anak-anak orang yang berduit bisa bersekolah di perguruan-perguruan tinggi mentereng dengan fasilitas lengkap. Jika ini yang terjadi sesungguhnya negara sudah melakukan “pemiskinan struktural” terhadap rakyatnya. 

Akhirnya kondisi masyarakat miskin semakin terpuruk lebih dalam. Tingginya tingkat putus sekolah berdampak pada rendahya tingkat pendidikan seseorang. Dengan begitu akan mengurangi kesempatan seseorang mendapatkan pekerjaan yang lebih layak. Ini akan menyebabkan bertambahnya pengangguran akibat tidak mampu bersaing di era globalisasi yang menuntut keterampilan di segala bidang.

Keempat, kesehatan. Seperti kita ketahui, biaya pengobatan sekarang sangat mahal. Hampir setiap klinik pengobatan apalagi rumah sakit swasta besar menerapkan tarif atau ongkos pengobatan yang biayanya melangit. Sehingga, biayanya tak terjangkau oleh kalangan miskin.

Kelima, konflik sosial bernuansa SARA. Tanpa bersikap munafik konflik SARA muncul akibat ketidakpuasan dan kekecewaan atas kondisi miskin yang akut. Hal ini menjadi bukti lain dari kemiskinan yang kita alami. M Yudhi Haryono menyebut akibat ketiadaan jaminan keadilan “keamanan” dan perlindungan hukum dari negara, persoalan ekonomi-politik yang obyektif disublimasikan ke dalam bentrokan identitas yang subjektif. 

Terlebih lagi fenomena bencana alam yang kerap melanda negeri ini yang berdampak langsung terhadap meningkatnya jumlah orang miskin. Kesemuanya menambah deret panjang daftar kemiskinan. Dan, semuanya terjadi hampir merata di setiap daerah di Indonesia. Baik di perdesaan maupun perkotaan. 


Tidak dapat dipungkiri bahwa yang menjadi musuh utama dari bangsa ini adalah kemiskinan. Sebab, kemiskinan telah menjadi kata yang menghantui negara-negra berkembang. Khususnya Indonesia. Mengapa demikian? Jawabannya karena selama ini pemerintah [tampak limbo] belum memiliki strategi dan kebijakan pengentasan kemiskinan yang jitu. Kebijakan pengentasan kemiskinan masih bersifat pro buget, belum pro poor. Sebab, dari setiap permasalahan seperti kemiskinan, pengangguran, dan kekerasan selalu diterapkan pola kebijakan yang sifatnya struktural dan pendekatan ekonomi [makro] semata. 

Semua dihitung berdasarkan angka-angka atau statistik. Padahal kebijakan pengentasan kemiskinan juga harus dilihat dari segi non-ekonomis atau non-statistik. Misalnya, pemberdayaan masyarakat miskin yang sifatnya “buttom-up intervention” dengan padat karya atau dengan memberikan pelatihan kewirauasahaan untuk menumbuhkan sikap dan mental wirausaha [enterpreneur]. 

Karena itu situasi di Indonesia sekarang jelas menunjukkan ada banyak orang terpuruk dalam kemiskinan bukan karena malas bekerja. Namun, karena struktur lingkungan [tidak memiliki kesempatan yang sama] dan kebijakan pemerintah tidak memungkinkan mereka bisa naik kelas atau melakukan mobilitas sosial secara vertikal.
  
Berdasarkan permasalahan-permasalahan di atas kuncinya harus ada kebijakan dan strategi pembangunan yang komprehensif dan berkelanjutan jangka panjang. Pemerintah boleh saja mengejar pertumbuhan-ekonomi makro dan ramah pada pasar. Tetapi, juga harus ada pembelaan pada sektor riil agar berdampak luas pada perekonomian rakyat.

Ekonomi makro-mikro tidak bisa dipisahkan dan dianggap berdiri sendiri. Sebaliknya keduanya harus seimbang-berkelindan serta saling menyokong. Pendek kata harus ada simbiosis mutualisme di antara keduanya.

Perekonomian nasional dengan demikian menjadi sangat kokoh dan vital dalam usaha pemenuhan cita-cita tersebut. Perekonomian yang tujuan utamanya adalah pemerataan dan pertumbuhan ekonomi bagi seluruh rakyat Indonesia. Sebab, tanpa perekonomian nasional yang kuat dan memihak rakyat maka mustahil cita-cita tersebut dapat tercapai. Intinya tanpa pemaknaan yang subtansial dari kemerdekaan politik menjadi kemerdekaan ekonomi maka sia-sialah pembentukan sebuah negara. Mubazirlah sebuah pemerintahan. Oleh karenanya pentingnya menghapus kemiskinan sebagai prestasi pembangunan yang hakiki.

Masalah Sosial Terhadap Tawuran Pelajar



 Kekerasan pada pelajar sudah sering kita dengar. Hal ini sering terjadi di sekolah dan pelakunya adalah teman sesama pelajar atau oleh oknum guru, yang seharusnya mendidik dengan penuh kasih sayang. Berdasarkan penelitian UNICEF tahun 2006 bahwa sekitar 80% kekerasan pada pelajar di daerah seluruh Indonesia dilakukan oleh guru. Di media cetak dan elektronik sudah sering diberitakan adanya kekerasan pada pelajar baik yang dilakukan oleh sesama pelajar maupun oleh oknum guru. Misal, kasus kekerasan yang dialami seorang pelajar di Kulon Progo pada bulan November 2010, hingga pelajar tersebut mengalami luka memar di bagian kepala. Di televisipun pernah marak diberitakan kematian pelajar akibat penganiayaan yang dialami Cliff Muntu seorang praja Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN) dan diduga pelakunya adalah seniornya. Pada tahun yang sama, tahun 2007 seorang pelajar Franky Edward Damar tewas saat mengikuti Masa Orientasi Siswa (MOS) SMK Pelayaran Wira Maritim Surabaya. Sebelumnya Franky merasakan sakit perut dan hanya diberikan obat sakit kepala oleh seniornya.
Tentu sangat miris mendengar pelajar-pelajar di negeri ini banyak mengalami kekerasan hingga mengakibatkan luka bahkan meninggal dunia di tempat mereka menimba ilmu. Di sekolah mereka mengalami kekerasan, sekolah yang seharusnya menjadi tempat aman dan nyaman untuk mendapatkan ilmu.
Menurut Kuriake banyak guru di Indonesia yang masih beranggapan bahwa kekerasan masih efektif untuk mengendalikan siswa (Philips 2007). Padahal kekerasan bukanlah solusi yang tepat, karena dapat menimbulkan trauma psikologis, pelajar menyimpan amarah dan dendam dan selanjutnya melampiaskan kepada teman sesama pelajar yang lebih lemah. Hal ini tentunya akan sangat mengganggu proses belajar mengajar di lingkungan sekolah.
  1. Definisi Kekerasan pada Pelajar
Menurut Weber, kekuasaan manusia atas manusia lain berlandaskan pada instrumen legitimasi, penampakan arah legitimasi yaitu kekerasan. Dengan kata lain, Weber mendefinisikan kekuasaan sebagai satu kemungkinan memberdayakan kehendak seseorang, dalam bentuk tindak kekerasan terhadap pihak lain (Weber, 1956:171).
Pihak yang memegang kekuasaan menurut Weber adalah pelaku tindak kekerasan. Dalam dunia pendidikan, pelaku kekerasan yaitu guru, perangkat sekolah, dan pelajar yang merasa dirinya lebih kuat sehingga menindas pelajar lain yang lemah.
Kekerasan pada pelajar dapat berupa;
  • Kekerasan fisik, berupa pemukulan, penganiayaan, dll. Hal ini dapat menyebabkan luka atau cedera pada pelajar.
  • Kekerasan psikis, dengan cara menghina, melecehkan, menjelek-jelekan, melontarkan kata-kata yang menyakiti hati sehingga pelajar tersebut merasa terhina, dilecehkan, kecil, bodoh, tidak berharga, tidak berguna dan menurunkan rasa percaya diri.
  • Kekerasan defensif, tindakan kekerasan yang dilakukan dalam rangka mempertahankan diri, bukan untuk menyerang.
  • Kekerasan agresif, adalah kekerasan untuk mendapatkan sesuatu, seperti merampas.
  1. Faktor-faktor Penyebab kekerasan pada pelajar
Beberapa faktor yang mempengaruhi tindak kekerasan pada pelajar yaitu:
  1. Dari pihak guru
  • Kurangnya pengetahuan guru bahwa kekerasan baik fisik maupun psikis tidak akan mampu memecahkan masalah, dalam hal ini kekerasan tidak akan merubah kelakuan siswa. Tetapi justru akan menimbulkan trauma psikologis, bahkan dendam yang akan sangat mengganggu perkembangan siswa.
  • Penilaian guru yang sama terhadap setiap siswanya, dalam hal ini hendaknya guru memahami individual differences atau perbedaan yang dimiliki oleh masing-masing siswanya. Mulai dari background keluarga siswa berasal, kecerdasan, serta minat dan bakat. Sehingga seorang guru tidak akan menilai atau menghakimi seorang siswa yang menurutnya melakukan pelanggaran dengan kekerasan.
  • Pola mengajar satu arah yang masih banyak berlaku di Indonesia, sehingga menciptakan figur guru yang berkuasa, sehingga membuat siswa kurang mendapatkan kesempatan untuk berpendapat dan berekspresi. Dan hal ini cenderung membuat guru untuk menerapkan kekuasaan kepada siswa secara mutlak.
  • Muatan kurikulum yang mengutamakan kecerdasan kognitif. Sehingga membuat susana belajar menjadi tegang dan menimbulkan tekanan. Disini guru sangat dibutuhkan agar menciptakan suasana belajar yang menyenangkan.
  1. Dari pihak pelajar atau siswa
Salah satu yang menyebabkan kekerasan pelajar adalah sikap pelajar tersebut, sikap sangat berhubungan dengan psikologis dan kepribadian yang dimiliki. Sikap inferioritas yang dimiliki pelajar, yaitu merasa tidak mampu, tidak dipedulikan, lemah, bodoh, kurang diperhatikan akan memicu dirinya untuk berbuat sesuatu bahkan yang menyalahi aturan agar dirinya mendapatkan perhatian dari semua warga sekolah. Namun sikap inferioritas ini dapat juga menimbulkan sikap yang sangat merugikan saat pelajar tersebut berusaha mendapatkan perhatian dan pengakuan dengan cara menindas pelajar lain yang lebih lemah.
  1. Dari pihak keluarga
Kekerasan yang dilakukan oleh guru dan pelajar juga harus dilihat dari background
atau masa lalu yang mereka alami di keluarga, yaitu antara lain:
  • Pola asuh
Pola asuh orang tua yang permisive dengan menuruti setiap kemauan dan tuntutan anak, maka akan membuat anak tersebut tidak mampu untuk mengelola emosi. Dia akan menganggap dirinya sebagai ‘raja’ dan memperlakukan orang di sekitarnya termasuk teman sekolahnya sesuai kemauannya untuk memenuhi setiap keinginannya. Sebagai contoh, sikap anak yang memaksa temannya untuk memberikan contekan saat ulangan atau siswa yang dengan paksa menyuruh temannya untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya.
Sementara pola asuh orang tua yang penelantar akan mengakibatkan anak menjadi merasa tidak berharga, tidak dipedulikan, rejected atau merasa ditolak. Sikap inferioritas ini selanjutnya akan membuat anak menjadi pendiam dan menarik diri dari pergaulan. Sehingga tidak jarang justru akan ditindas oleh anak lain yang merasa lebih kuat.
Lain halnya dengan pola asuh otoriter yang membuat anak kurang mendapat kesempatan untuk berpendapat dan berekspresi karena aturan orang tua yang terlalu ketat. Pola asuh ini akan menimbulkan sikap kurang percaya diri pada anak dan sikap merasa bahwa dirinya selalu membuat kesalahan, tertekan, merasa takut kepada yang lebih kuat dan rasa patuh yang berlebihan serta irrasional. Selanjutnya tekanan emosi ini akan dilampiaskan kepada teman yang lebih lemah dalam bentuk agresivitas.
  • Orang tua yang mengalami masalah psikologis
Orang tua yang mengalami masalah psikologis, misal mengalami stress secara berlarut-larut maka akan sangat mempengaruhi anaknya secara psikologis. Karena orang tua yang cenderung melampiaskan kekesalannya pada anak dan mudah marah maka akan membuat anak menjadi kehilangan semangat, kehilangan konsentrasi, sensitive, serta mudah marah.
  • Keluarga disfungsional
Keluarga yang salah satu anggotanya suka melakukan kekerasan, seperti memukul, menyiksa fisik, mengintimidasi anggota keluarga lain atau keluarga sering melakukan konflik tebuka secara berkepanjangan maka akan sangat mempengaruhi kondisi psikologis anak.
  1. Dari pihak lingkungan
Menurut filsuf Inggris, John Locke (1704-0932), perkembangan anak tergantung pada lingkungan, teori ini dikenal dengan ‘tabularasa’. Yakni anak dilahirkan sebagai kertas putih yang corak dan tulisannya digoreskan oleh lingkungan. Menurut aliran ini lingkungan sangat berpengaruh dalam membentuk tingkah laku, watak, serta sikap anak.
Tak dapat dipungkiri bahwa kekerasan pada pelajar selama ini juga akibat dari pengaruh lingkungan, diantaranya adalah:
  • Adanya budaya kekerasan di lingkungan tempat anak tumbuh. Kekerasan yang dianggap sebagai suatu kewajaran di lingkungan tempat anak tumbuh maka akan membuat anak memandng kekerasan sebagai hal yang biasa dan wajar.
  • Tayangan kekerasan di media elektronik, khususnya televisi. Jika seorang anak sering menonton tayangan kekerasan di televisi maka anak akan termotivasi untuk meniru atau mengimitasi hal tersebut, karena kekerasan tayangan televisi sering dikaitkan dengan kesuksesan dan kekuatan maka seorang anak akan melakukan kekerasan agar dirinya ditakuti dan terlihat kuat.
  • Mengalami sindrom Stockholm. Sindrom stockholm adalah kondisi psikologis dimana antara pihak korban dengn pihak aggressor (penyerang) mngalami hubungan yang baik, dan selanjutnya pihak korban akan membantu aggressor mewujudkan keinginannya. Hal ini sering terjadi pada saat Masa Orientasi Siswa (MOS), dimana para mahasiswa senior meniru perilaku para seniornya dahulu dalam memperlakukan junior.
  1. Dampak Kekerasan pada Pelajar
Kekerasan pada pelajar di sekolah dapat menimbulkan berbagai macam dampak, antara lain:
  1. Dampak fisik
Kekerasan fisik dapat menimbulkan organ-organ tubuh korban mengalami luka, memar, dll.
  1. Dampak psikologis
Kekerasan psikis dapat menimbulkan trauma psikologis, rasa takut, rasa tidak aman, rasa tidak percaya diri, rasa marah, rasa dendam, menurunnya inisiatif dan kreatif sehingga akan sangat berpengaruh pada prestasi belajar. Dan efek jangka panjangnya adalah dapat menimbulkan perubahan sikap pelajar secara jangka panjang.
  1. Dampak sosial
Pelajar yang mengalami dampak kekerasan tanpa ada penanggulangan maka akan menjadi seorang pemurung, pendiam, tertutup, sulit berkomunikasi, sulit mempercayai orang lain dan akan menarik diri dari lingkungan pergaulannya.
     Kekerasan pada pelajar dapat terjadi kapan saja. Sangat penting bagi semua pihak bahwa kekerasan bukanlah solusi yang tepat tetapi justru menambah masalah. Hal ini menjadi tanggung jawab bersama untuk mengatasinya, tidak hanya pihak sekolah saja, namun orang tua juga memegang peranan penting agar mampu mencegah tindak kekerasan ini. Beberapa solusi dalam mengatasi kekerasan pada pelajar di sekolah yaitu:
  1. Bagi Sekolah
  • Menerapkan dan menanamkan pendidikan tanpa kekerasan di sekolah.
  • Guru seharusnya menjalin komunikasi yang efektif dengan siswa dan mengenali potensi dan bakat siswa serta memeberikan kebebasan dan penghargaan dalam berkreasi.
  • Menerapkan hukuman yang logis bagi setiap kesalahan siswa, sehingga dapat mencegah pemberian hukuman yang berlebihan atau tidak rasional.
  • Sekolah memebekali guru dengan pengetahuan dan pengalaman baru untuk mengembangkan kreatifitas guru. Penting juga untuk membekali guru dengan ilmu psikologi dan sosiologi agar guru mampu memahami dinamika perkembangan kejiwaan siswa.
  • Bimbingan konseling bagi siswa dan guru, agar dapat mengetahui masalh-masalh yang dihadapi siswa dan guru secara dini.
  • Menangani dan segera menindaklanjuti kekerasan yang dialami pelajar.
  1. Bagi Orang tua
  • Memilih sekolah dengan cermat agar tidak terjadi tindak kekerasan pada anaknya.
  • Menjalin komunikasi yang efektif kepada anak, agar anak bersedia menceritakan segala hal yang dialaminya di luar rumah kepada orang tua. Sehingga dapat dengan mudah diketahui bila terdapat masalah yang sedang dihadapai anak.
  • Menjalin komunikasi yang efektif dengan pihak sekolah dan lingkungan pergaulan anak.
  • Orang tua menerapkan pola asuh yang lebih banyak memberikan dukungan daripada hukuman. Agar anak memiliki tanggung jawab secara sosial.
  • Mengatur tayangan telivisi yang ditonton oleh anak, dan menghindari tayangan yang mengandung unsur kekerasan.
  • Mencari solusi atau penyelesaian setiap masalah dan konflik yang ada dan tidak membiarkannya berlarut-larut agar tidak menguras energi fisik dan psikis.
  • Meminta bantuan pihak profesional jika persoalan dalam rumah tangga sudah berlarut-larut dan tidak ditemukan jalan keluarnya sehingga mengganggu kehidupan mereka sehari-hari
  1. Bagi pelajar yang mengalami kekerasan
Menjalin komunikasi yang efektif dengan orang tua, guru atau orang dipercaya. Sehingga dapat segera sharing saat mengalami kekerasan dan bisa mendapatkan pertolongan segera untuk pemulihan kondisi fisik dan psikisnya.

Masalah Sosial di Kalangan Remaja Masa Kini



Masalah sosial memang hebat dibincangkan di mana-mana sahaja di dunia ini dan kini lebih hebat dibincangkan dari masa kesemasa di Malaysia sendiri. Bukan sahaja masalah ini terjadi di negara membangun tetapi di negara maju dan juga dunia ketiga. Remaja masa kini hidup penuh dengan cabaran demi kemajuan dan kemodenan sehingga mereka kini hidup dengan penuh kebebasan. Kebebasan remaja kini tiada terbatas lagi hingga berlaku pelbagai masalah sosial di kalangan mereka yang bergelar remaja. Permasalahan sosial di kalangan remaja masa kini amat membimbangkan banyak pihak terutama sekali golongan ibu bapa dan golongan pendidik. Akhlak remaja semakin jatuh dan bagaikan tidak dapat dibendung lagi.
Seks bebas, lari dari rumah, buang bayi, mengedar dan menagih dadah, alkohol, ponteng sekolah, mengugut, menubuhkan kumpulan haram. Kesemua yang disebutkan tadi hanyalah sebahagian dari permasalahan sosial di kalangan remaja kita.
Remaja adalah seorang manusia yang berusia antara 14-21 tahun. Pada usia tersebut mereka sangat naif terhadap apa-apa perkara , mereka selalu ingin mencuba semua yang ada di dunia ini tanpa memikirkan akibatnya di masa yang akan datang.
Penyakit ini sebenarnya sudah lama bertapak di negara kita. Ia disebabkan oleh banyak faktor, antaranya adalah suasana persekitaran yang berubah secara mendadak terutamanya dengan pengaruh media massa dan elektronik yang saban hari mempengaruhi pemikiran golongan muda terutama yang baru meningkat remaja. memaparkan tentang eksploitasi terhadap wanita dan kebebasan remaja yang keterlaluan yang banyak. Dengan kurangnya didikan agama dan kasih sayang dari ibu bapa, perasaan ingin mencuba, desakan atau pengaruh dari rakan sebaya ini semua sebab terjadinya masalah sosial yang kian sukar dibendung lagi.
Masalah sosial yang melanda remaja pada masa kini terjadi daripada beberapa faktor. Antaranya selain daripada yang diberikan di atas merupakan pengaruh atau ugutan daripada rakan sebaya, kekurangan ilmu bagi menyesuaikan diri dengan kehidupan di bandar dan mempunyai sikap ingin mencuba sesuatu yang tidak baik dan juga sebab seperti di bawah.

Globalisasi /Kebebasan

Globalisasi sebenarnya tidak bermaksud kebebasan yang tidak ada batasnya, tetapi bermaksud kebebasan setiap manusia untuk menunjukkan seluruh potensinya sehingga dapat membawanya perubahan yang bererti baik pada diri sendiri mahupun orang lain.
Dalam era globalisasi ini banyak sekali berlaku pengekploitasian terhadap segala sesuatu iaitu ilmu pengetahuan sampai hal-hal yang bersifat pornografi yang membahayakan mental generasi muda kita. Remaja mudah terpengaruh terhadap perkara baru dan trendy misalnya mewarna rambut, memakai anting-anting atau tattoo bahkan sampai kepada hal-hal yang sangat serius iaitu pengambilan minuman keras, narkotik dan pergaulan bebas yang menjurus kepada free sex (seks bebas) yang giat dilakukan oleh remaja.

Modenisasi

Globalisasi bergerak seiringan dengan modenisasi. Salah satu alasan utama yang menjurus kepada masalah jenayah di kalangan remaja adalah disebabkan oleh proses modenisasi ini. Dalam dunia yang serba moden ini, masyarakat yang inginkan kemewahan menjadi semakin individualistik dan materialistik.
Sesetengah masyarakat moden tidak lagi menerima suratan takdir. Mereka mempercayai bahawa usaha mereka boleh membawa kebaikan. Jika di banding dengan masyarakat tradisional, masyarakat moden mempunyai cita-cita tinggi. Mereka mahukan prestij, gaji tinggi dan barang-barang mewah. Masyarakat moden tidak lagi menganggap saudara-mara mereka dan jiran mereka sebagai kelompok rujukan. Mereka mempunyai hubungan yang luas, di luar batasan sosial dan fizikal. Bagi mereka terdapat beberapa adat resam tradisional yang sudah tidak diamalkan lagi dalam masyarakat moden.

Media Massa / Internet

Dewasa ini, media massa memainkan peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi masyarakat khususnya golongan remaja. Melalui teknologi yang semakin canggih ini, golongan remaja mudah terdedah kepada banyak maklumat termasuk bahan yang tidak sesuai yang boleh mendatangkan bahaya jika digunakan tanpa panduan daripada golongan dewasa.
Golongan pelajar lazimnya mudah meniru dan mengikut hal yang dilihat di sekeliling mereka. Paparan adegan-adegan negatif dari filem barat yang banyak memaparkan adegan ganas menimbulkan perasaan ingin tahu dan ingin cuba sendiri mengikut apa yang mereka tonton dari video cakera padat dan sesetengah program televisyen.
Selain daripada video cakera padat (VCD), bahan-bahan pornografi juga mudah didapati melalui internet yang sukar dibuat tapisan oleh pihak yang berwajib. Oleh itu, ibu bapa seharusnya membimbing dan memberi tunjuk ajar supaya remaja ini mendapat panduan yang betul.
Ideologi Kebebasan Bertingkah Laku
Kebebasan bertingkah laku di negara Barat telah banyak membawa akibat yang buruk dalam masyarakat mereka. Apakah kita sepatutnya mencontohi mereka? Adakah semua yang dibawa Barat baik? Rancangan Barat yang berunsur realiti banyak memperlihatkan adegan yang tidak selaras dengan kebudayaan Timur.
Rancangan televisyen pastinya mengghairahkan remaja kerana memaparkan adegan-adegan yang menjolok mata dan kadang-kadang unsur-unsur seks yang melampau serta cara hidup yang serba pincang. contohnya filem-filem Barat yang di tayang di televisyen, lebih-lebih lagi bagi siaran yang berbayar.
Rancangan televisyen sebegini seolah-olah memberikan satu fahaman bahawa orang ramai boleh mengadakan seks rambang selagi tidak ada pencabulan hak dan kebebasan di antara dua pihak. Budaya seperti inilah yang mendedahkan remaja kepada penyakit-penyakit kelamin yang berbahaya.

Pakaian Dan Kes Rogol

Anak-anak muda kini diajak menjadi golongan yang berfikiran terbuka. Malangnya, minda mereka dicemar oleh konsepsi kehidupan yang membawa kepada kecelaruan. Zaman ini perempuan Melayu Islam yang memakai mini skirt, seluar pendek atau memadankan tubuh dengan bikini dan bertanding dalam peraduan ratu cantik di khayalak ramai tidak dianggap sebagai pesalah. Golongan wanita muda yang berpakaian menjolok mata tidak dapat menerima pendapat bahawa merekalah yang memainkan peranan dalam melonjaknya jumlah kes rogol dan pencabulan kehormatan.

Dunia Cinta Remaja

Perasaan ingin berpasangan semakin memuncak ketika berada di alam remaja. Sekiranya perasaan ini tidak dikawal atau dibendung sudah tentu ia akan membawa kepada masalah sosial. Isu terkini benarkah remaja kini banyak terlibat dalam aktiviti seks bebas? Mereka bercinta dan melakukan hubungan seks serentak demi cinta sejati.
Remaja lelaki dan perempuan masa kini menghadapi masalah sosial seperti pergaulan bebas, anak luar nikah, zina dan sebagainya. Bercinta tidak pernah dianggap salah malahan orang yang tidak percaya akan cinta kepada insan lain dan pencipta-Nya merupakan golongan manusia yang rugi. Islam sendiri menggalakkan umatnya saling kenal mengenali antara satu sama lain tanpa mengira jantina, bangsa dan agama.
Mungkin ada cara untuk menangani masalah percintaan. Remaja diingatkan supaya berkawan atau bercinta dengan cara yang telah digariskan oleh Islam yang diantaranya adalah mengelakkan pergaulan tanpa batas, berdua-duaan di tempat sunyi dan sebagainya.
”cinta yang tak terkawal boleh membawa kepada masalah yang lebih buruk…”

Mengisi Masa Lapang Remaja

Penggunaan untuk mengisi waktu lapang bagi remaja sering diabaikan. Kerap kita berjumpa dengan remaja-remaja yang masih memakai pakaian seragam sekolah berkeliaran di pusat membeli belah atau ‘melepak’ di tepi jalan. Kegiatan semacam ini dirasakan kurang bermanfaat dan dapat menimbulkan berbagai masalah sosial, seperti mengganggu ketenteraman.
Pelajar yang sibuk dan menyukai kesibukan, biasanya memiliki masa lapang yang terbatas. Mereka kurang berminat pada kegiatan-kegiatan yang tidak berfaedah. Pengisian masa lapang yang kurang terarah, akan mendesak remaja melakukan aktiviti atau kegiatan yang kurang terarah seperti perbuatan negatif.
Oleh itu perlu diingat aktiviti apa saja yang dipilih oleh seseorang, khususnya remaja, sebagai pengisi masa lapang tidak harus dipandang remeh oleh ahli keluarga.

CARA MENGATASI MASALAH SOSIAL REMAJA

Remaja atau belia perlu mengekalkan pergaulan terpuji di kalangan rakan-rakan mereka dan mestilah mempunyai dan mengamalkan sifat-sifat yang terpuji seperti berakhlak mulia, beradab ketika berbicara, sering memberi salam, jujur, memelihara amanat, sabar, toleransi dan seumpamanya hingga kepada azam menanam rasa memuliakan teman atau rakan yang baik pada setiap pertemuan. Pergaulan juga harus dijaga daripada perkataan yang sia-sia, kotor dan perkara-perkara yang merupakan ‘kerugian’ bagi setiap individu Muslim.Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: "Bukanlah seorang Mukmin yang sempurna, yang suka mencela dan melaknati, berperangai jahat dan berakhlak rendah."
Bagi remaja yang sudah terpesong hendaklah sedar bahawa kita sepatutnya mengamalkan nilai-nilai murni yang baik dalam pergaulan serta mencari arah dan tujuan hidup yang asal serta mencipta kebaikan dan kecemerlangan diri. Tidak bererti keterlanjuran diri yang telah berlalu merupakan sempadan yang tidak dapat diubah ke arah yang lebih baik dan sempurna. Justeru, pergaulan yang dicari ialah pergaulan yang baik, beretika, dan sentiasa ingat kepada ajaran-ajaran beragama serta menghala tuju ke arah kualiti hidup yang berguna. Lihatlah kepada resmi ikan, meskipun berenang di lautan masin, namun ikannya tetap tawar dan sedap dimakan.Maknanya, meskipun pelbagai perubahan sosial yang berlaku di sekeliling kita, pengaruhnya tidak semudah itu meresap ke dalam diri kita, namun yang baik tetap menjadi pilihan dan keutamaan kita. Untuk mempertahankan kebaikan yang kita sedia miliki inilah kita perlu kepada ketahanan diri. Ketahanan diri yang dimaksudkan ini memerlukan kepada bekalan yang kukuh dan mantap. Dalam konteks ini, apa yang lebih mujarab untuk menjadi benteng yang menjadi senjata mengawal diri ialah memperteguh keimanan dan kekuatan beragama.Tiada apa-apa yang akan dapat membantu dalam mengawal diri kita ini, jika kita kosong dengan bekalan keimanan dan ketakwaan yang mendalam. Kita perlu dan tidak boleh mengabaikan bahawa perhiasan yang paling indah ialah keimanan dan ketakwaan yang mendalam kepada Allah s.w.t.Jika hakikat ini kita abaikan, maka mudahlah segala ancaman dan gejala sosial menebusi pertahanan diri kita. Jika pertahanan diri kita sudah dibolosi,Inilah yang akan menjadi isu kehidupan yang bukan sahaja akan melibatkan banyak perkara, malahan ia juga akan melibatkan tenaga dan usaha yang jika dialihkan ke arah yang lebih bermakna, akan lebih memberikan kesan dan manfaatnya.Inilah yang sedang kita lalui sekarang dan kita memerlukan persiapan diri untuk berdepan dengan budaya yang sudah mula membauri kemurnian yang sedemikian lama kita pupuk dan semai bersama. Kita perlu sedar dan menginsafi bahawa jika kita terus membiarkan keadaan ini berlaku, kita akan kehilangan nilai dan juga kemurnian jati diri bangsa. Justeru, semua pihak (lebih-lebih remaja sendiri) harus berperanan dan bertanggungjawab dalam mewujudkan ketahanan budaya dan nilai-nilai kehidupan beragama yang sedemikian lama kita genggam. Tidak ada ertinya lagi untuk kita sering menyalahkan antara satu dengan yang lain.
Kerajaan telah melakukan bermacam-macam cara untuk menarik minat dan perhatian remaja dari melakukan aktiviti yang tidak berfaedah, seperti kempen Budi Bahasa budaya kita, Tak Nak kepada Rokok, Belia Benci Dadah dan banyak lagi, namun usaha dan susulan sedemikian yang giat dilaksanakan dengan bantuan badan-badan tertentu tidak begitu berjaya menarik minat remaja secara menyeluruh. JAKIM sebagai salah sebuah agensi kerajaan juga turut serta dalam hal ini seperti mengadakan program menjadikan masjid sebagai tempat persinggahan penagih dadah, bengkel menangani gejala sosial remaja, dakwah untuk remaja, menerbitkan bahan-bahan bacaan berunsur Islam untuk remaja serta banyak lagi.
Tanggungjawab membanteras masalah sosial sebegini bukan sahaja tanggungjawab kerajaan dan pihak sekolah sahaja malah tanggungjawab ini harus dipikul oleh semua pihak, terutama ibu bapa sendiri. Adalah tidak munasabah sekiranya pihak ibu bapa sekadar menuding jari kepada pihak lain sekiranya anaknya bertindak liar.
”..Ini tanggungjawab semua pihak, remaja pun tidak boleh disalahkan 100%...”
Kembali kepada Akal Budi Islam
Menurut Islam, kanak-kanak mula dapat membezakan perkara yang baik dan buruk setelah mencapai mumaiyiz iaitu berumur tujuh tahun. Pada ketika inilah ibu bapa atau penjaganya patut melatih anak mengerjakan ibadat yang wajib. Apabila anak mencapai umur baligh, mereka wajib melaksanakan semua suruhan agama dan menjauhkan segala larangannya.
Islam mempunyai suatu sistem yang cukup lengkap, datangnya dari pencipta manusia sendiri iaitu Allah SWT yang sendirinya tahu tentang baik atau buruk bagi manusia itu. Amalkan ajaran Islam sepenuhnya sebagai cara hidup.
Kesimpulan
Sama ada disedari atau tidak kebanyakan masalah yang melanda remaja masa kini adalah disebabkan oleh tekanan serta permasalahan yang wujud di dalam persekitaran. Terdapat banyak faktor yang perlu ditimbangkan sebelum kita boleh menuding jari siapa penyumbang utama isu ini. Bak kata pepatah “mencegah adalah lebih baik daripada mengubati ”. Maka, adalah wajar bagi semua pihak untuk sentiasa menangani dan prihatin dengan permasalahan sosial remaja.
Sebagai penjaga kepada anak-anak, ibu bapa haruslah lebih peka dan sentiasa mengambil berat tentang masalah yang dihadapi oleh anaknya. Ibu bapa haruslah bersikap terbuka dan membincangkan isu ini dengan anak-anak mereka Marilah kita dengan penuh sedar dan keinsafan bergabung fikiran, tenaga, kepakaran dan pengalaman, bertindak mencari jalan penyelesaian walaupun usaha yang dilaksanakan nanti belum pasti dapat menghapuskan permasalahan ini tetapi sekurang-kurangnya kita berusaha untuk membendung daripada terus merebak memusnahkan anak bangsa rakyat yang tercinta. Begitu juga dengan remaja, mereka seharusnya sentiasa peka dan terus berusaha untuk menjadi remaja yang merdeka. “Remaja hari ini adalah pemimpin hari esok”.